Postingan

Terima Kasih, Waktu.

Sebagai pembuka, tidak banyak yang akan saya tuangkan dalam utas ini. - Bagian 1: Waktu berlalu rasanya terlalu cepat. Rasanya telah banyak memori yang telah terukir dalam ruang hampa. Seribu rasa silih berganti, dari perasaan sedih atas kehilangan, rasa sakitnya luka yang mendalam, rasa hampa yang membelenggu, rasa haru yang hangat, rasa cinta yang dingin dan masih banyak 'ke-kacau-an' yang belum tuntas dalam diri ini. Entah, berapa banyak waktu lagi yang masih bisa dinikmati sampai batas akhirnya. Dari sekian banyak rasa yang belum tertata, ada satu perasaan hancur yang sepertinya memang sulit terungkap. Keinginan yang belum tuntas, keragu-raguan yang tidak pernah menemukan pasti. Badai ini tidak pernah hilang rupanya.  - Bagian 2: Perjalanan menuju jenjang dewasa rasanya begitu berat dan tentu lebih sulit. Tentu, naik ke arah 'puncak' butuh usaha, kan? Belajar dari banyak pengalaman, di dunia ini tidak ada satupun manusia yang bisa kita titipkan rasa percaya. Percaya...

Note to Self...

Berangkat dari pengalaman, tidak ada yang namanya "kesialan abadi". Pernahkah kita mengucap syukur atas kekurangan yang kita terima? Atas sesuatu yang tidak pernah kita harapkan hadir di hadapan kita? Atas segala luka yang pernah singgah dalam hidup? Atas segala akibat yang bahkan bukan kita penyebabnya? Saya berani bertaruh, bahkan saya akan menjawabnya dengan "tidak". Lalu, apa masalahnya? Itu nasibmu. Itu jalan hidupmu. Itu takdirmu. Kesialan hidupmu. Iya, memang. Lalu, apa masalahnya? Masalah terbesar dari segala pertanyaan dan pernyataan itu adalah dirimu, diri kita, diri saya. Loh? Dimana masalahnya? Disini, di dalam diri. Mengapa segala sesuatu yang tidak kita kehendaki lantas menjadi kesialan untuk diri kita? Pikiran menjadi buruk, berlebihan, tidak tenang. "Aku terlahir untuk menjadi sial!". "Overthinking does kill your happiness." Sebuah catatan penting untuk diri sendiri. Tidak sulit untuk bersyukur bahwa kita ma...

Sudah

Kusangka pekat merajut lara Pahang menyusup lidah Tapi cangkir tak bersuara Hanya rasa telah pasrah Nikmat menjalar Kuduk berdiri Ah, sudah kelar Tak ingin lagi mencari -d, Juni 2019